Sukses
Lihat Trolley Sewa Lanjutkan
Added to Wishlist
OK

Saya akan Membiasakan Anak Saya Pada Gadget, Setelah..

Diposkan: 07 May 2016 12:27:09 PM Dibaca: 1550 kali


Dia bisa beradaptasi perasaan bosan!

Si kecil senang sekali melihat video klip nursery rhymes. Dia juga senang menirukan suara-suara binatang seperti kambing, bebek, dan sapi. Kita menganggap dia suka binatang, tapi kenapa dia justru cepat sekali bosan saat diajak ke nursery farm field?

"Ma kenapa kambingnya diam aja, gak nyanyi dan nari?" Kalimat itu mungkin tidak akan keluar dari mulut anak balita anda, tapi mungkin kalimat itu bisa menjelaskan rasa bosannya. Pemandangan yang ia lihat jauh berbeda dengan apa yang biasa dilihatnya di layar iPad. Kambing di iPad bisa bergerak dengan lincah, menari dan menyanyikan lagu 'baa-baa black sheep'. Tarian, nyanyian dan keceriaan itulah yang membuat dia betah menatap layar berjam-jam.

Ya, saat anak sudah terbiasa melihat kambing di depannya menari, maka dia tidak lagi bisa menikmati gerak gerik kambing yang natural. Baginya, kambing yang menarik adalah kambing yang lincah menari. Bukan kambing yang kerjanya hanya makan, pipis, pup dan sesekali mengembik.

Itu pula yang akan terjadi saat dia masuk sekolah. Dia terlanjur terbiasa dengan keceriaan kakak-kakak di Hi-5 dan tidak terbiasa melihat guru yang berbicara di depan kelas tanpa menyanyi ataupun menari. Dia menjadi ‘intolerir’ pada pemandangan statis dan monoton.

Biarkan anak kita mampu beradaptasi dengan kebosanan. Biarkan dia bisa secara kreatif memberikan hiburan pada otaknya sendiri. Membiasakan paparan gadget secara maraton membuat anak tidak lagi memiliki toleransi pada suasana sunyi, slow motion, dan pasif. Mereka terbiasa 'disuapi' pemandangan yang aktif bergerak. Mereka tidak lagi kreatif menciptakan gerakan baik yang nyata secara fisik maupun di dalam pikiran mereka sendiri.

 

Dia Mampu Menciptakan Percakapan

Selain jadi tidak mampu kreatif mencari kebahagiaan ditengah rasa bosan. Terbiasa dengan keberadaan gadget juga membuat anak tidak terbiasa memulai percakapan, dan hal ini sebetulnya sudah di mulai pada generasi kita, orang tua mereka.

Sekarang, berapa banyak orang yang menunggu antrian sambil mengutak atik handphone mereka? Generasi kita seperti kehilangan kemampuan untuk memulai pembicaraan dan bersosialisasi secara santai di ruang publik. Padahal handphone baru mulai booming 17 tahun yang lalu, dan smartphone sekitar 7-8 tahun lalu. Artinya kita baru mengenal smartphone di bangku sekolah atau kuliah. Bagaimana nasib anak kita yang sudah mengenal gadget di usia balita?

Beberapa waktu lalu saya pergi ke sebuah bank untuk menemui Customer Service karena kartu ATM saya yang tertelan. Saat menunggu customer service tersebut mengecek data saya di sistem, dan sibuk dengan layar komputernya, saya secara otomatis mengeluarkan smartphone saya. Di tengah keasyikan menelusuri social media, saya mendengar seorang bapak sedang berbicara dengan customer service yang melayaninya di meja sebelah. Dia menceritakan bahwa anaknya sedang skripsi dan dia berharap anaknya akan lulus tahun ini. Seketika itu saya menyadari sesuatu, saya telah melewatkan waktu untuk berbincang santai dengan Customer Service di hadapan saya.

Adanya TV, Internet dan smartphone dengan segudang aplikasi memang membuat kita mudah mengisi kesunyian. Bahkan mungkin ada beberapa diantara kita yang secara otomatis menghidupkan TV saat sampai rumah, tanpa tahu film apa yang mau kita tonton. Atau membuka handphone tanpa tahu apa yang mau dilakukan. Kita jadi terbiasa mudah mengisi rasa sepi dan sunyi tanpa harus sibuk menciptakan topik pembicaraan.

 

Dia Mengenal Arti Kata Menunggu dan Bersabar

Dulu, saat saya mau tertawa lepas, artinya saya harus main keluar rumah, memanggil teman saya, dan mengajak mereka ke taman untuk bermain. Kami harus menentukan mau bermain apa. Atau, saat ingin bermain sendiri setidaknya saya harus berjalan menuju taman, dan bertanya pada orang tua saya bolehkan saya bermain. Keseruan yang saya inginkan membutuhkan proses untuk dilalui. Sekarang, keseruan bisa didapat hanya dengan menekan sebuah tombol aplikasi.

Jadi, jangan heran kalau anak-anak yang terbiasa dengan gadget jadi mudah marah, cenderung agresif, dan tidak sabar. Bisa jadi mereka bukan tidak sabar, melainkan tidak tahu artinya sabar. Mereka terbiasa dilayani dengan cepat dan instan. Mereka tidak terbiasa menunggu. Seperti yang telah dipaparkan diatas, biarkan dia bisa beradaptasi dengan rasa bosan. Jika mereka mampu beradaptasi dengan kebosanan, mereka akan mengasah sendiri ke‘kreatifitas’an dalam menunggu.

 

Mereka merasakan dunia nyata

Bermain game di handphone memiliki aturan sederhana, jika kita bisa menyelesaikan tugas maka kita akan mendapat hadiah. Hadiah bisa berupa tambahan poin, naik level ataupun sekedar tulisan "Congratulation, great job!". Adakah game yang lupa memberi apresiasi saat anda menang? Adakah game yang menyerobot antrian? Adakah game yang tidak membiarkan anda naik level karena merasa sentimen pada Anda? Yang jelas, di dunia nyata, semua itu, ADA.

Saat anak hanya mengenal dunia game mereka tidak mengerti hidup di dunia nyata. Emosi mereka tidak terlatih untuk bisa menerima "unfairness" perilaku yang tidak adil. Kemampuan mereka untuk bertahan dan tidak menyerah saat menghadapi ketidakpastian menjadi rendah.

Game memang telah diprogram untuk berlaku adil. Mereka dirancang untuk memenangkan pihak yang paling kuat, paling jago, dan yang memang sudah seharusnya menang. Kehidupan nyata jauh berbeda.

Anak anda harus dikenalkan dengan perilaku agresif dari anak lain yang menyerobot antrian. Mereka harus belajar bahwa kadang dunia tidak berlaku adil. Bukan untuk memakluminya dan ikut berlaku seenaknya. Tapi untuk bisa kuat dan siap secara mental. Sehingga saat nanti dia menghadapi hal itu, dia tidak menyerah atau tidak melulu mengeluh dan merengek. Menyalahkan pihak lain atas kegagalan mereka. 

 

Muncul Kesadaran Bahwa Gadget adalah Pelengkap

Kecanduan adalah salah satu alasan yang akhirnya dikeluhkan orang tua saat mereka sudah terlanjur membiasakan gadget menjadi teman anak mereka. Anak mereka tidak bisa tidur jika belum bermain gadget, atau anak mereka bisa teriak-teriak saat tahu gadget mereka habis batre atau tertinggal di rumah. Mereka seperti lupa bahwa mereka akan baik-baik saja tanpa gadget.

Karena itu, banyak pakar yang menyarankan isolasi gadget selama 3x24 jam bagi anak-anak yang terlanjur kecanduan gadget. Mereka harus memberikan penyadaran pada anak mereka bahwa “they’re gonna be just fine” tanpa gadget mereka.

Tapi ingat sebelumnya, mungkin kita sebagai orang tua juga harus memastikan terlebih dahulu apakah kita sendiri sudah memiliki kesadaran akan hal-hal di atas? Jangan-jangan justru diri kita sendiri sudah menjadikan gadget sebagai barang ‘hidup atau mati’ bukan hanya pelengkap. Jadi mari benahi diri kita sendiri dulu, kemudian ingatkan diri kita sendiri bahwa gadget bukanlah baby sitter yang tepat bagi anak kita.

Jadi, saya harus realistis meniadakan gadget sama sekali di zaman sekarang ini rasanya susah, kalau tidak mau dibilang mustahil. Saat sekolah saya ingin anak saya sudah bisa mencari informasi lewat google atau bisa memanfaatkan aplikasi untuk mereka mengenal dunia. Tapi saya percaya bahwa itu akan bisa mereka pelajari secara cepat, otak anak itu seperti sponge, dan teknologi semakin anyar semakin easy to use. Sekarang, saatnya mereka belajar tanpa gadget, atau setidaknya boleh gunakan gadget sebagai pelengkap, bukan sesuatu yang utama. 

 

 

Ditulis oleh Asih Nurfitri S.Psi

Penyedia jasa sewa mainan, stroller, peralatan bayi, dan playground untuk acara wedding, pesta ulang tahun, seminar, gathering dan lain-lain. Melayani wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi


Tags

Artikel Terkait

Melatih Konsentrasi Anak

Melatih Konsentrasi Anak

Temukan cara melatih konsentrasi anak berdasarkan usianya

Diposkan: 07 May 2016 10:14:39 AM Dibaca: 2146 kali

Yuk Main : 4 Alasan Kenapa Anak Susah di Ajak Tidur Saat Malam

Yuk Main : 4 Alasan Kenapa Anak Susah di Ajak Tidur Saat Malam

Mengungkapkan alasan kenapa anak susah untuk bisa tidur malam

Diposkan: 06 May 2016 10:42:59 AM Dibaca: 1208 kali

Anak Belajar Jalan : Alternatif Baby Walker

Anak Belajar Jalan : Alternatif Baby Walker

pilihan terbaik selain menggunakan baby walker konvensional (bomba)

Diposkan: 27 Apr 2016 11:36:23 AM Dibaca: 21301 kali

Anak Belajar Jalan : Jangan Abaikan Fase Merangkak

Anak Belajar Jalan : Jangan Abaikan Fase Merangkak

pentingnya fase merangkak dalam rangka anak belajar berjalan

Diposkan: 27 Apr 2016 11:03:13 AM Dibaca: 3190 kali

Anak Belajar Jalan : Kenapa Baby Walker Konvensional Berbahaya?

Anak Belajar Jalan : Kenapa Baby Walker Konvensional Berbahaya?

penjelasan kenapa model baby walker konvensional yang telah ada sejak dahulu berbahaya bagi anak

Diposkan: 25 Apr 2016 16:55:17 PM Dibaca: 3079 kali

Tips sewa stroller: Mengenal Model Stroller berdasarkan usia

Tips sewa stroller: Mengenal Model Stroller berdasarkan usia

Tips sewa stroller berdasarkan usia anak

Diposkan: 25 Apr 2016 16:28:19 PM Dibaca: 2534 kali

Pilih Stroller (kereta dorong) atau Baby Carrier (gendongan)?

Pilih Stroller (kereta dorong) atau Baby Carrier (gendongan)?

Hal- Hal yang bisa menjadi pertimbangan orang tua dalam memilih mneggunakan stroller (kereta dorong) atau baby carrier (gendongan)

Diposkan: 25 Apr 2016 15:47:06 PM Dibaca: 3350 kali

Hal yang harus diperhatikan anak dalam bermain perosotan

Hal yang harus diperhatikan anak dalam bermain perosotan

Hal- Hal yang harus diajarkan oleh orang tua kepada anak dalam bermain perosotan agar berbuah baik bagi anak dan lingkungan sekitar

Diposkan: 23 Apr 2016 11:13:07 AM Dibaca: 8877 kali

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Blog Search



Blog Category
Blog Tags

JABODETABEK

Ruko Milan No.11
Komplek Telaga Golf
Sawangan - Depok

Mobile:
0822 3389 8806

BANDUNG

Jl. Kota Mas Indah No.41
Komplek Kota Mas
Cimahi

Mobile
0811 2298 806

 

CALL CENTRE

021 293 2222 3 (JABODETABEK)

0811 2298 806 (BANDUNG)