Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar
Lanjutkan Belanja
Kategori

Blog Kategori
Follow Us
  • Youtube_Pok Ame Ame
  • FB_Pok Ame Ame
  • IG_Pok Ame Ame

Pentingnya Mengetahui Karakter Anak

Di hari pertama masuk taman bermain seorang anak langsung asyik berbaur dengan teman-temannya sambil sibuk menceritakan tentang tas baru yang sengaja diberikan Mama untuk hari pertamanya sekolah. Anak lain, terlihat diam dan pasif sambil terlihat waspada memperhatikan setiap pojok ruang kelas. Sementara, di sudut kelas seorang anak menangis akibat didorong temannya yang baru datang karena dia merasa memiliki mainan yang dipegang anak tersebut.

Tingkah polah mereka berbeda, padahal sama-sama sedang mengalami situasi yang sama : hari pertama sekolah. Apa yang membuat kepribadian seorang anak bisa berbeda satu sama lain?

Dalam situasi yang lain seorang anak yang pemalu bisa jadi tiba-tiba berubah menjadi anak yang sangat aktif dan senang bicara. Sebaliknya, anak yang sebelumnya memiliki energi tak terbendung di hari pertama sekolah berubah menjadi sangat pemurung dan terlihat berhati-hati. Apakah itu artinya seorang anak memiliki kepribadian yang ganda?

Secara naruliah, sebagai orang tua, kita cenderung mengajak anak kita untuk menyeimbangkan perilaku mereka. Anak yang pemalu akan didorong untuk berani berbicara dan terbuka dalam beradaptasi dengan lingkungan baru. Sebaliknya, anak yang tidak bisa diam sering diminta, atau bahkan dimarahi, orang tuanya untuk bisa diam dan duduk tenang. Adanya faktor lingkungan inilah yang membuat mereka menunjukan sikap berbeda. Tidak bisa dipungkiri, perilaku seseorang merupakan penggabungan antara sifat-sifat alami yang ia miliki sejak lahir (nature) dengan sifat-sifat yang ia kembangkan kemudian atau dipelajari (nurture).

Walaupun, jika kita sebagai orang tua memperhatikan secara lebih cermat, pada dasarnya setiap anak tetap memiliki kecenderungan untuk lebih berat ke satu arah. Memahami karakter dasar anak adalah hal yang penting, karena karakter dasar tersebut akan berpengaruh kepada:

Bagaimana dia berhubungan dengan orang lain. Manusia adalah makhluk sosial, keberadaan manusia lain di sekitar kita tidak bisa diabaikan. Setiap orang tua tentu menginginkan anak mereka mampu bersosialisasi dengan baik. Kecemasan pasti akan timbul saat melihat anak kita terlalu pemalu dan menarik diri saat hadir dipertemuan keluarga. Merasa cemas itu wajar, tapi kita tetap harus ingat bahwa setiap anak memiliki cara masing-masing untuk memulai perkenalan dan menjalin hubugnan dengan orang lain.

Ada yang bisa melakukannya secara cepat bahkan terlihat tanpa usaha berarti. Ada juga yang membutuhkan sedikit usaha untuk akhirnya bisa benar-benar percaya dan merasa nyaman dengan orang baru. Ingat, bisa jadi yang awalnya terlihat bisa cepat dekat dengan orang baru, tiba-tiba bisa dengan cepat pula memutuskan hubungan yang sebelumnya ia jalin. Sebaliknya anak yang awalnya terlihat takut, justru memiliki kemampuan mempertahankan hubungan lebih lama saat dia sudah percaya dengan orang tersebut. Jadi tidak usah buru-buru menyimpulkan bahwa anak kita memiliki kemampuan sosialisasi tinggi atau rendah. Kemampuan bersosialisasi bukan cuma soal berani menjawab nama saat ditanya, tapi juga soal kepercayaan, kemauan untuk saling menghargai dan mendengarkan.

Bagaimana dia menghadapi masalah. Pernahkan anda melihat anak yang bisa dengan mudah marah saat dia gagal menyelesaikn puzzle-nya? Atau seorang bayi yang berteriak kencang dan menangis karena dia tidak berhasil membebaskan tangan di bawah perutnya setelah dia berbalik dari terlentang ke posisi tengkurap? Tingkat rasa frustasi yang diekspresikana anak juga bisa menjadi salah satu cara kita untuk  memahami mereka.

Anak-anak yang cenderung memiliki karakter ambisius terhadap pencapaian yang ia raih bisa jadi lebih mudah merasa frustasi saat dia tidak berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Haruskah kita memarahinya saat dia merasa frustasi? Sebetulnya, rasa tertekan akibat tidak bisa mencapai hasil yang diinginkan adalah sebuah tanda-tanda kesuksesan. Kenapa? Karena saat kita merasa frustasi, biasanya kita akan mencari dan mencoba berbagai cara lain untuk bisa membalikan keadaan.

Membiasakan mereka untuk tetap tenang menghadapi masalah tapi tidak membuat mereka putus asa dan meninggalkan begitu saja apa yang tengah mereka kerjakan, merupakan seni pengasuhan yang harus kita bentuk dan pelajari. Inilah kenapa kita selaku orang tua sebaiknya memiliki kepekaan terhadap karakter dasar anak kita.

Pola pikir serta cara melakukan sesuatu. Saat beranjak usia pra sekolah, biasanya kita mulai meminta si kecil untuk mulai terlibat dalam tugas-tugas sederhana. Misalnya mengambilkan sisir di laci setelah dia mandi, atau, sesuatu yang bersifat peraturan seperti memasukan kembali semua mainannya ke dalam box. Bila diperhatikan secara teliti, biasanya setiap anak memiliki cara tersendiri dalam mengolah instruksi yang diberikan. Ada yang terlihat gampang untuk melakukan tapi tidak tuntas dan berhenti di tengah-tengah. Ada yang awalnya terlihat sulit diarahkan sehingga kita butuh mengingatkan dia berulang-ulang tapi justru berhasil melakukannya sampai tuntas.

Cara mereka melakukan apa yang diminta juga bisa jadi berbeda. Ada anak yang melakukan dengan cara persis seperti yang sudah dicontohkan sebelumnya. Namun, ada pula anak yang cenderung sering mencoba melakukan dengan cara berbeda, untuk sebuah tugas yang sama. Apakah itu salah? Rasanya tidak, karena itu adalah bentuk awal kekreatifitasan seorang anak. Sebagai orang tua, yang harus kita lakukan adalah mengamatai sehingga kita bisa mengerti pola pikir mereka.

Ketertarikan dan motivasi yang menggerakan si kecil. Apa yang membuat si kecil akhirnya mau diajak masuk ke kamar mandi untuk mandi? Peringatan bahwa dia nantinya akan ditinggal dan tidak diajak pergi. Keseruan yang ada di dalam kamar mandi, seperti pistol-pistolan air ataupun sponge warna-warni. Atau, sekedar kata-kata “ayo sayang, sudah waktunya mandi”, karena dia sudah sangat paham pentingnya menjaga rutinitas ?

Mengenal bagaimana seorang anak merasa termotivasi untuk mengerjakan sebuah tugas merupakan hal yang penting untuk kita miliki. Banyak orang tua yang mengeluh bahwa anak mereka tidak pernah mau menurut dan mendengarkan anak mereka, padahal mereka hanya tidak tahu bagaimana caranya. Mengetahui apa yang bisa menggerakan mereka adalah kunci utama bagi kita sebagai pendidik pertama mereka untuk mengarahkan dan mengembangkan potensi mereka.

Keempat hal tersebut merupakan hal-hal dasar yang bisa kita perhatikan sebagai orang tua untuk mengenal siapa mereka. Ingat pepatah yang mengatakan “jika tak kenal maka tak sayang?”, mungkin kasus orang tua dan anak kasih sayang adalah sesuatu yang fitrah dan tidak perlu dibangun. Tapi, mengetahui cara menyayangi mereka dengan tepat adalah sesuatu yang berbeda. Karena itu mengenal dengan baik siapa mereka adalah hal yang wajib kita lakukan sebagai orang tua.

 

Ditulis oleh Asih Nurfitri S.Psi

Penyedia jasa sewa mainan, stroller, peralatan bayi, dan playground untuk acara wedding, pesta ulang tahun, seminar, gathering dan lain-lain. Melayani wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi


 

Artikel Terkait

    Diposkan: 2016-05-25 10:07:03 ; Dibaca: 766 kali
  • Penjelasan mengenai tantrum yang biasa dialami anak
    Diposkan: 2016-05-07 10:14:39 ; Dibaca: 789 kali
  • Temukan cara melatih konsentrasi anak berdasarkan usianya

 

Komentar
Tidak ada komentar!
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Kirim

.