Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar
Lanjutkan Belanja
Kategori

Blog Kategori
Follow Us
  • Youtube_Pok Ame Ame
  • FB_Pok Ame Ame
  • IG_Pok Ame Ame

8 Dimensi Perilaku Untuk Lebih Mengenal Si Kecil

 “si adek emang gitu, kalau ada maunya kekeuh banget kayak mamanya”

“gak apa-apa si kakak emang gitu, jangan di tegur dulu, kayak mesin diesel, lama panasnya”

Secara tidak sadar kita memang bisa melihat adanya pola dalam perilaku anak kita. Ekspresi wajah, pergerakan, gestur tubuh dan intonasi menjadi indikator kita sebagai orang tua mengenal anak kita. Menurut para ahli, temperamen yang dimiliki seorang anak bisa mulai terlihat pada usia tiga bulan. Mengetahui temperamen seorang anak adalah sesuatu yang penting untuk menyelaraskan antara harapan kita dengan kemampuan yang ditampilkan anak kita. Misalnya, jika memiliki anak yang punya sifat dasar pemalu, usahakan untuk selalu datang 10 menit lebih awal sebelum acara. Saat keadaan masih sepi, seorang anak yang pemalu dapat memiliki waktu lebih panjang untuk membiasakan dirinya.

Sangat salah bila kita sebagai orang tua mengharapkan anak kita yang pemalu bisa dengan gampang berbaur dengan anggota keluarga besar yang lain saat datang di tengah acara. Karena bagaimanapun, tugas kita sebagai orang tua bukan mengubah karakter mereka, mereka adalah diri mereka sendiri. Tugas kita adalah menyesuaikan dan mengajarkan pada mereka bagaimana menyiasati antara karakter yang mereka punya dengan harapan lingkungan sekitar.

Sebuah penelitian yang dikenal sebagai New York Longitudinal Study (NYLS) mendefinisikan karakter anak menjadi tiga kategori yaitu easy (mudah), slow to warm up (pemalu) dan difficult (menantang). Menurut penelitian ini, ketiga karakter tersebut bisa dinilai lewat delapan dimensi yang dilihat dari perilaku keseharian si kecil, yaitu :

  • Tingkat aktifitas anak, dinilai dari cara serta proporsi antara lama waktu dia aktif bergerak dan diam dengan tenang. Sebagai contoh, seorang anak dengan tingkat aktifitas yang tinggi akan segera memulai permainan kejar-kejaran saat dikunjungi oleh sepupunya. Sedangkan anak dengan tingkat aktifitas yang rendah memilih kegiatan lain yang lebih tenang, seperti menggambar atau melihat-lihat buku cerita.
  • Irama atau rutinitas anak, dilhat dari rutinitas fungsi biologisnya, seperti kapan dia lapar, kapan dia bangun dan tidur serta mandi setiap harinya. Sebuah contoh paling sederhana adalah waktu makan, apakah dia cenderung selalu makan di jam yang sama? Contoh lain adalah waktu tidur, apakah dia terbiasa tidur setelah makan malam atau dia bisa terjaga hingga jam 10 atau bahkan 11 malam?
  • Mendekat atau menjauh, ini terkait dengan respon alami seorang anak ketika dihadapkan pada sebuah situasi baru ataupun stimulus baru. Mendekat artinya si kecil akan langsung berbaur saat memasuki area permainan. Sedangkan menjauh, artinya si kecil baru mau berbaur setelah beberapa kali pertemuan ataupun kunjungan.
  • Kemampuan beradaptasi, kemampuan yang dimaksud terkait dengan kemampuan anak untuk mudah berpindah kegiatan dari keasyikan bermain menjadi makan siang, atau kemampuan untuk bermain dengan teman di lingkungan yang baru, termasuk bersedia merubah menu makanan dari ayam ke ikan, walaupun sebelumnya telah dijanjikan akan makan ikan. Kurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri biasanya ditandai dengan protes. Protes bisa berupa penolakan saat menu makanannya terpaksa diganti karena toko yang mereka inginkan tutup. Mengamuk saat ada anak lain ikut bermain. Serta munculnya rasa frustasi orang tua karena kesusahan membuat dia berhenti bermain karena waktu makan sudah tiba.
  • Sensitifitas Dalam Meresepon Gangguan dari Luar. beragam stimulus yang si kecil dapatkan akan membentuk kepekaan dia dalam merespon. Bagaimana dia bereaksi dengan suara keras, bau menyengat, cahaya yang silau, pergerakan yang tiba-tiba, tekstur yang kasar, termasuk tekanan yang didapatkan dari orang lain (bagi si kecil, kadang sapaan hangat dari tante yang berkunjung bisa juga menjadi tekanan). Ada anak yang memiliki sensitifitas yang tinggi, mudah terganggu dan gampang sekali menunjukan perubahan mood.
  • Energi. Ada anak yang memang memiliki energi keceriaan yang tinggi, dia seperti memiliki sejuta alasan untuk tetap berlari, bernyayi serta menari. Adapula yang cenderung diam, serius, dan lebih suka mengamati sambil sibuk menganalisa.
  • Cara berekspresi. Pernahkan anda melihat anak yang melompat kegirangan hanya karena dia berhasil memasukan batu kedalam kolam? Atau sebaliknya anak yang menjerit sebal karena tidak berhasil mengambil bola yang jatuh ke dalam kolong kursi? Apakah semua anak akan berekspresi dengan cara yang sama? Banyak anak yang hanya akan tersenyum bahkan saat dia dibelikan sepatu baru, banyak pula yang mungkin hanya akan menunduk seding saat mainannya jatuh.
  • Ketahanan dan kegigihan. Ada anak yang tetap bertahan dan terus berusaha saat dia mengalami kesulitan dalam mengikat sepatu. Ada yang mudah frustasi dan berteriak saat tali sepatunya tak kunjung terpasang. Adapula yang dengan mudahnya menyerah dan lebih memilih sandal atau bertelanjang kaki saja saat tali sepatunya tidak berhasil diikat.  Lama waktu anak untuk mau bertahan memainkan sebuah mainan juga bisa berbeda, ada yang mudah sekali bosan dan adapula yang bisa bertahan memainkan suatu mainan sampai setengah jam.

Setiap anak itu unik, dan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Saat kita memang memiliki anak yang cenderung serius jangan paksa dia untuk ikut berlari dan tertawa. Biarlah dia jadi dirinya sendiri.

Toh, seorang Habibie saja bilang, dia sejak kecil tidak suka bersosialisasi, kenapa? Karena otaknya sedang sibuk berfikir dan menganalisa cara kerja benda-benda di sekitarnya. Siapa yang tahu apa yang ada di otak si kecil saat dia duduk diam disamping kita saat sebuah pesta meriah berlangsung. Dia mungkin tidak ikut bernyanyi, tapi toh dia tidak menyakiti anak siapapun kan bila dia memilih untuk duduk diam? Yang penting, tugas kita sebagai orang tua adalah mengenal siapa anak kita. Sehingga jika ada saudara atau orang lain yang merasa aneh dengan tingkah si kecil, kita bisa cukup tersenyum atau bila dirasa perlu mejelaskan. Karena yang paling tahu si kecil adalah kita, orang tuanya.

 

Ditulis oleh Asih Nurfitri S.Psi

Penyedia jasa sewa mainan, stroller, peralatan bayi, dan playground untuk acara wedding, pesta ulang tahun, seminar, gathering dan lain-lain. Melayani wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekas


 

Artikel Terkait

    Diposkan: 2016-08-02 11:16:58 ; Dibaca: 673 kali
  • Penjelasan mengenai hal-hal yang dapat mempengaruhi si Kecil dalam proses pembentukan kepribadiannya di masa depan.
    Diposkan: 2016-08-01 10:16:42 ; Dibaca: 462 kali
  • Penjelasan mengenai penting dan bagaimana cara orang tua mengetahui karakter dari anak-anaknya agar menjadikan mereka lebih mengenal dan lebih dekat dekat mereka
    Diposkan: 2016-05-07 10:14:39 ; Dibaca: 677 kali
  • Temukan cara melatih konsentrasi anak berdasarkan usianya

 

Komentar
Tidak ada komentar!
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Kirim

.